Astaga!HidupGaya - Siapa sih di dunia ini yang tak butuh sahabat? Rasanya hidup akan terasa hampa jika tak ada sahabat di sekeliling kita. Namun bisakah kita bersahabat tanpa harus 'mengubah' sahabat itu jadi jatuh cinta pada kita?
Menjalin persahabatan dengan lawan jenis memang sah-sah saja. Bahkan tak sedikit wanita yang lebih memilih kaum pria sebagai tempat curhat (curahan hati) ketimbang rekan-rekan wanita yang dinilainya lebih suka "bergosip ria" atau tak bisa dipercaya. Begitu juga sebaliknya, tak sedikit pria yang lebih memilih bersahabat dengan rekan wanita, yang salah satu alasannya mungkin untuk bisa mendapatkan pandangan lain dari sudut lawan jenis.
Namun terlepas dari apapun alasannya, tak jarang persahabatan seperti ini dinilai lain oleh masyarakat. Karena saking dekatnya dan kerap kali bertemu, tak jarang pasangan sahabat ini dikira pasangan yang tengah dimabuk asmara. Tapi bagaimana bila penilaian ini terlontar pada persahabatan di mana keduanya sudah mempunyai pacar atau pasangan hidup resmi, istri atau suami? Kalau hal ini terjadi salah-salah bisa memacu konflik besar yang akan mengarah pada perceraian.
Tidak ada yang bisa menyangkal, terkadang persahabatan seseorang bisa membuat iri banyak orang. Bayangkan dia sepertinya punya tempat yang akan dengan setia menjaga dan menampungnya. Persahabatan itu sendiri dibangun dari saling kepercayaan yang tinggi dan saling mengerti tanpa harus dibicarakan atau diutarakan terlebih dahulu. Tak hanya itu selain menjadi tempat berkeluh kesah dan adu argumentasi, sahabat adalah orang yang bisa paling jujur di dunia untuk mengomentari segala hal tentang Anda meski akan menyakitkan Anda sekalipun.
Namun tampaknya persahabatan yang Anda bangun ini akan menjadi ancaman bila pacar atau pasangan resmi sahabat Anda kurang mengerti dengan bentuk persahabatan yang Anda bina. Salah-salah, karena sahabat Anda kerap sekali meminta saran untuk segala kegiatan hidupnya, mulai karier hingga keluarganya, Anda akan dikira memasuki teritorial orang lain. Dalam arti, pasangan resmi sabahat Anda mungkin saja akan merasa menjadi nomor dua dalam hidup pasangannya dan tidak menerimanya.
Satu hal lagi yang akan semakin membuat keadaan parah adalah bisa-bisa sahabat Anda cenderung mengeksekusi sesuatu hal berdasarkan gagasan Anda. "Jangan-jangan istriku berselingkuh dengan sahabatnya," pikiran tersebut mungkin saja akan terlontar di benak pasangan resmi sahabat Anda.
Bila dilihat, persahabatan yang Anda bangun ini bukan waktu yang singkat. Anda sudah mengenalnya jauh hari sebelum sahabat Anda mengenal dan bahkan menikah dengan pria/wanita pujaannya. Namun itulah realitas hidup. Di mana suatu saat mereka pasti akan berumahtangga dan punya orang lain yang tentu saja harus mendapat prioritas juga. Untuk mengantisipasi keadaan ini hendaknya sejak awal Anda sudah mengenalkan pasangan Anda dengan sahabat Anda. Syukur-syukur kalau menjadi teman dan sahabat baru dari sahabat lama Anda.
Jalinan persahabatan yang "beda" pun sebenarnya sudah bisa ditangkap dengan kasat mata. Yakni jika seseorang "punya hati" terhadap sahabatnya maka bisa dibaca lewat gerak-geriknya, cara memandang, pemilihan kata-kata bahkan kadang sikap salah tingkah, sedikit banyak menunjukkan bahwa dia berharap banyak dari sekadar persahabatan.
Jadi bagaimana cara untuk menjaga persabahatan dengan lawan jenis ini agar tidak mengarah pada perselingkuhan dan tetap bisa berlangsung lama? Begini tips nya:
1. Yang pasti, sejak awal luruskan niat terlebih dahulu. Pasalnya persahabatan yang dimulai dengan niat yang tidak benar bisa saja mengarah pada perselingkuhan. Awali persahabatan dengan sungguh-sungguh karena ada kesamaan sifat, pandangan, hobi, selera, dan sebagainya. Bukan karena tujuan ingin menjadikan sebagai pacar setelah merebut simpatinya.
2. Harus ada trust. Apapun yang diceritakan sahabat karena dia menganggap Anda bagian dari hidupnya. Mengkhianati kepercayaannya berarti Anda sudah bosan dengan pertemanan itu dan bersiap mencari musuh.
3. Tetap profesional bila bersahabat dengan rekan kantor. Dan persahabatan yang baik adalah persahabatan yang tidak bakal mengorek "isi perut" Anda.
4. Menjaga privasi masing-masing. Jangan intervensi dalam masalah sahabat. Sebaiknya pula jangan terlalu intens dalam arti Anda tak harus melulu berjalan dan bertemu dengan sahabat Anda setiap hari. Lakukan di waktu-waktu dimana Anda memang butuh teman untuk curhat ataupun meluapkan kegembiraan Anda. Yang pasti di saat Anda merasa dialah yang pantas bersama Anda di keadaan tertentu
5. Kenali pasangan masing-masing dan tekankan bahwa tidak semua hal bisa diceritakan kepada sahabat.
6. Jangan posesif. Bila gelagat ini sudah ditunjukkan oleh sahabat Anda, mulailah jaga jarak.
7. Keterusterangan itu kadang menyakitkan. Namun sahabat yang baik adalah yang dapat mengutarakan sesuatu secara terus terang dan tidak ada yang disembunyikan sedikitpun.
8. Ada topik-topik tertentu tentang wanita yang biasa dibicarakan antar lelaki, namun bisa jadi menyakiti hati wanita. Barangkali, bisa dinggap melecehkan. Hindari pembicaraan seperti ini di depan sahabat wanita Anda bila masih berniat meneruskan pertemanan.
9. Berpikir dan bertindak positif. Jika mengobrol tentang suatu hal, arahnya bukan mencela, tapi mendiskusikan. Dengan begitu, seseorang dapat membangkitkan rasa percaya diri sahabatnya. That's what friends are for kan?
Yang jelas hidup tanpa sahabat itu sangat sunyi. Sahabat itu diperlukan dalam segala hal, mendengarkan keluh kesah, kebahagiaan, kesedihan dan apapun. Karenanya bagi sebagian orang, kehilangan sahabat rasanya seperti the end of the world. Bagaimana dengan Anda?
Label: Pop Art
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment